Tag Archives: Wisata

A Trip To Tanjung Lesung (Part 2)

Terbangun sekitar jam 2 siang kami segera berkemas untuk mencari makan siang sekaligus menikmati suasana sekitar.

Kami makan siang di warung nasi di pinggir jalan. Harga yang ditawarkan memang tidak dapat dibilang murah walau tidak semahal yang dibayangkan untuk tempat wisata seperti ini. Banyak dari kami yang memesan cumi bakar. Cumi yang besar dan sedap rasanya! Jika di ibukota harganya tentu lebih mahal mengingat ibukota itu kejam, lebih kejam daripada ibu tiri. Termasuk dalam memberi harga.

Sambil makan siang kami mendiskusikan rencana kami berikutnya. Ada dua pilihan, menyebrang ke Pulau Hantu (Haliyungan) atau menuju Pantai Perawan, kami memutuskan untuk ke Pantai Perawan lebih dahulu dan ke Pulau Hantu (Haliyungan) besok subuh.

Setelah makan siang kami kembali ke penginapan. Beberapa dari kami segera berkemas setibanya di penginapan namun saya dan beberapa rekan memilih untuk berjalan ke pantai di depan penginapan setelah sebelumnya meminjam smartphone canggih milik Thessa karena handphone saya butut, pun kameranya. Diantara penginapan dan pantai ada jalan raya dan gugusan pohon kelapa. Setelah beberapa saat di tempat itu kami kembali ke penginapan dan segera berkemas menuju Pantai Perawan. Entah apakah anda berpikir hal yang sama dengan saya ketika mendengar nama pantai itu. Jika ada yang berpikir bahwa penamaan pantai itu karena banyak perawan di tempat itu, mungkin anda perlu membuat janji dengan psikolog.

Masih banyak foto yang akan di share, monggo dilanjut…

Kondisi jalan dari penginapan sampai ke tujuan terbagi dua jenis. Jalan biasa beraspal dan jalan berkerikil non aspal. Jalan beraspal mungkin hanya membutuhkan waktu 10-15 untuk ditempuh dengan kecepatan 50-60 km/jam. Jalan berkerikil mungkin sekitar 30-45 menit dengan kecepatan rata-rata 15 km/jam. Saran saya meskipun sedang kebelet janganlah melaju lebih dari 20 km/jam karena itu hanya akan membuat apa yang akan keluar menjadi lebih memberontak.

Ketika dalam perjalanan pulang baru kami tersadar bahwa di ruas jalan berkerikil ini tidak ada penerangan jalan. Rumah penduduk lokal yang umumnya agak jauh dari pinggir jalan hanya diterangi lampu dengan Watt rendah.

Lanjut ke cerita menuju Pantai Perawan. Setibanya di sana kami membawa turun motor dari aspal ke pasir pantai. Untuk mencapai pasir kami melewati semak lebat yang memiliki jalan sangat sempit. Jika membaca kata sempit, kemudian anda mengaitkannya dengan nama pantai ini, lalu berkhayal lebih jauh, jelas ada yang salah dengan anda πŸ™‚

Satu per satu dari kami melintasi jalan itu. Tentang tenggelamnya motor Wewe, Ari, dan Roy di pasir pantai, asumsi saya adalah, Wewe yang berada paling depan, melihat ada spot asik yang menghampar tidak jauh dari lokasi ketika kami muncul pertama kali di pantai. Kemudian dia mengarahkan motornya kesana diikutin yang di belakangnya (Ari). Namun apa lacur, ternyata ditengah-tengah ia dan Ari tejebak pasir cukup dalam. Jadilah hampir seperempat ban belakang mereka tenggelam dalam pasir.

Melihat kejadian itu kami tertawa dan masih memaksakan menuju spot tersebut, Roy mencoba menerobos pasir dan hasilnya sama seperti Wewe dan Ari. Maka surutlah niat kami memarkir sepeda motor di spot itu.

Setelah yang lain memarkir motor di tempat yang kondusif kemudian kami segera menikmati suasana Pantai Perawan. Pantai yang sepi, hanya ada sepasang manusia selain kami yang ada di sana. Tidak terlalu eksotis tapi saya percaya apa yang terhampar dihadapan kami saat itu bisa jadi penghibur bagi kami yang selama enam jam perjalanan hanya disuguhi pemandangan aspal, bus, truk, dan lainnya yang bisa dikatakan jauh dari indah. Sunset di tempat ini benar-benar memuaskan dahaga.Β  Silahkan dinikmati foto-fotonya.

Sunset

Happy -newly- Couple

An Evening Moment

A Scenery

Red Sunset

Lalu kegembiraan itu memancing kami mengeluarkan sisi lain dari diri kami masing-masing. Selamat menikmati

Masih normal

Mulai sedikit tampak πŸ™‚

Yak…Ada komen?

Mulai parah

Masih banyak foto yang akan kami share.

Silahkan.

Petugas Turing Berpose Galau

Wondering

A brader.

Segitu saja kiranya postingan A Trip To Tanjung Lesung Part 2. Menyusul nanti adalah A Trip To Tanjung Lesung Part 3 yang isinya sebagian besar akan bercerita tentang #LensaTuring di Pulau Haliyungan.

Terima kasih untuk kunjungannya. Salam Lensa Turing

Tagged , , , , ,

Photo (s)

Here we are leaving the Dolphin Bay 😦

Hope someday we’ll be againΒ  and hope it still beautiful and clean like now πŸ˜€

Tagged , , , , , , , , , , ,

Photo (s)

Inilah dynamic duo yang mengabadikan perjalanan kami dari Jakarta – Teluk Kilauan – Jakarta.

Roy (depan) dan Henry.

Terima kasih kawan πŸ˜€

Tagged , , , , , , , , , ,

Photo (s)

Here are Harry (front) and Fahmy riding with their bike. It’s about an hour to go from this place to reach the Teluk Kilauan.

The road ahead is worst then what we see in the picture here, so here come the challange πŸ˜€

Tagged , , , , , ,

Lensa Turing

Jakarta – Teluk Kilauan (Lampung)

30 September – 2 Oktober 2011

Hari 1 – Pulau Sumatera – Bandar Lampung – Pantai Klara – Teluk Kilauan.

Jam 10 atau 11 kami berangkat dari rumah Fahmi. Semangat dan tenaga baru siap mengantar kami untuk menikmati tempat tujuan, Teluk Kilauan. Diawal perjalanan dari kota Bandar Lampung menuju Teluk Kilauan kami menemui beberapa kemacetan. Ketika mulai meninggalkan kota maka kami menemui jalan yang cukup sempit, berlubang rendah, dan tambalan di sana – sini. Kemudian kami mengisi bahan bakar kendaraan kami di spbu terakhir sepanjang rute Bandar Lampung – Teluk Kilauan.

Kami juga sempat berbelanja di sebuah mini market karena menurut info yang kami terima dari berbagai sumber, ketersediaan air di Teluk Kilauan sangat tidak memadai. Maka kami pun memutuskan membeli air mineral beberapa botol, lotion anti nyamuk, dan camilan. Di mini market ini kami juga memastikan bawaan di jok belakang atau box dalam keadaan terikat kencang.

Pit stop kami selanjutnya adalah pantai Klara. Pantai yang indah dan sepertinya cukup sering dikunjungi masyarakat, hal ini terlihat dari adanya pintu masuk, tarif parkir roda dua dan empat, penjaja makanan dan minuman, serta saung saung untuk berteduh. Kami tidak lama di Pantai Klara, hanya meregangkan badan dan berfoto – foto dan segera melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan kondisi jalan cukup memadai hingga sebuah komplek marinir, selepas itu β€œselamat datang” di jalan rusak πŸ˜€

Dengan kondisi jalan yang normal mestinya komplek marinir – teluk kilauan dapat di tempuh dalam waktu sejam menurut estimasi saya pribadi, namun dengan kondisi seperti ini waktu tempuhnya menjadi sekitar dua jam. Ada sebuah hiburan menarik sepanjang jalan rusak itu yakni rumah panggung (yang mungkin) adalah rumah adat Lampung. Lumayan membantu kejenuhan melihat jalan rusak di bawah terik matahari.

Setelah melalui sebuah turunan yang curam (yang konon sebelum di beton adalah satu titik terganas menuju teluk kilauan) akhirnya kami sampai di sebuah perkampungan teluk Kilauan. Seperti yang sudah kami baca dan dengar, ada beberapa pura di kampung ini karena cukup banyak masyarakat Bali yang berdiam di tempat ini. Kami melanjutkan perjalanan sampai ujung aspal yang rupanya bukan itu tempat yang kami tuju, selidik punya selidik akhirnya kami bertemu dengan orang yang sejak dari Jakarta sudah di hubungi oleh Roy untuk masalah penginapan. Kami kemudian memarkir motor kami dan mulai menyebrang ke Teluk Kilauan dengan perahu. Kami menginjak pulau di teluk Kilauan sekitar pukul 17.30. Segera unpack dan berlari ke pantai untuk menikmati pemandangan dan bermain air, namun sayangnya sudah terlalu gelap. Akhirnya kami ngobrol di bibir pantai dan selang sejam kemudian menikmati makan malam yang sudah kamu pesan sebelumnya.

Makan malam yang sederhana namun bagi saya pribadi terasa begitu nikmat. Di tempat ini ada sebuah tempat MCK dan televisi parabola. Selepas makan malam dan ngobrol akhirnya satu per satu dari kami terlelap tidur. Di pagi hari Roy dan Henry sudah tidak ada di tempat semula mereka tidur, kamera mereka pun tidak di tempatnya. Saya bergegas bangun dan meminjam (ga pake bilang sih) kamera Harry. Sepanjang pagi dan siang kami habiskan untuk berfoto dan bermain air. Pukul dua siang kami meninggalkan pulau dan menyempatkan berfoto bersama pengelola pulau.

 

 

Dalam perjalanan pulang tidak banyak berbeda dengan perjalanan menuju tempat ini. Kami bersyukur kami dapat selamat di rumah kami masing – masing sekitar pukul empat pagi. Henry yang di Bekasi akhirnya memutuskan menginap di rumah Roy kala itu. Kami juga bersyukur perjalanan ini lancar dan cuaca cerah. Semoga dilain waktu kami punya kesempatan untuk berkendara bersama kembali menuju tempat – tempat eksotis lainnya di Indonesia.

 

Salam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tagged , , , , , , ,
%d bloggers like this: