Tag Archives: Seven Eleven

Lensa Turing

Jakarta – Teluk Kilauan (Lampung)

30 September – 2 Oktober 2011

Malam 1 – Pulau Jawa – Grogol – Merak.

Jam menunjukkan pukul 17.00 dan saya bergegas pulang ke rumah dari kantor. Saya, Harry, dan Fahmi berjanji untuk kumpul di kantor Harry sebelum akhirnya bertemu dengan Roy dan temannya di KFC Daan Mogot. Setelah selesai berkemas saya mengambil waktu sejenak untuk beristirahat, meluruskan badan, dan berdoa agar saya dan sahabat – sahabat yang menjalani turing wisata ini dilindungi sampai ke rumah masing – masing.

Sehati-hati apapun kita dalam berkendara namun jika tanpa doa kepada yang maha kuasa, adalah sia sia.

 

 

Di SPBU Shell dekat rumah saya mengisi full tank dan odometer saya reset menjadi 0. Saya penasaran berapa jauh perjalanan yang akan saya tempuh bersama sahabat – sahabat saya nanti. Saya tidak memakai box karena itu saya hanya mengikat bawaan saya di jok belakang, besarnya tidak seberapa karena saya juga tidak terlalu banyak membawa barang selain pakaian. Harry memakai top box, Fahmi tidak memakai box tapi memakai side bag, Roy menggunakan top dan side box (hal ini wajar karena dia dan Henry membawa perlengkapan kamera yang banyak).

Ketika berangkat dari tempat Harry menuju KFC Daan Mogot kami berhenti sejenak karena saya perlu mampir ke ATM. Selepas dari ATM Fahmi baru menyadari kalau kunci untuk gembok side bag-nya hilang dan untuk itu dia perlu kembali ke kosnya untuk mengambil kunci cadangan. Dari kos Fahmi kemudian kami meluncur ke titik kumpul selanjutnya.

Sesampai di sana ternyata Roy dan Henry belum datang untuk itu kami membeli makan dahulu sambil menunggu. Karena ga becusnya jaringan BIS blackberry maka terjadi kesalahpahaman antara kami yang menunggu di KFC dengan Roy dan Henry. Di conference BBM yang kami buat, kami sudah menginformasikan kepada Roy bahwa kami sudah tiba. Namun sampai 30 menit kemudian Roy belum tiba padahal menurut saya dari tempat Roy sampai tempat kami menunggu hanya memakan waktu beberapa menit. Untungnya Roy berinisiatif menelepon kami (kami tidak ada yang menyimpan nomor telepon Roy). Akhir saya putuskan untuk menunggu Roy di pinggir jalan daerah Jembatan Gantung Daan Mogot.

Setelah lengkap kemudian kami mulai berjalan beriringan menuju Merak. Estimasi waktu kami adalah empat jam kemudian baru kami sampai di pelabuhan di selat Sunda itu. Perjalanan kami tempuh dengan kecepatan maksimum 75 km/jam, dimana rata – rata kecepatan kami adalah 60 km/jam. Terlalu pelan? Itulah mengapa saya katakan turing wisata.

Sejak dari Daan Mogot hingga Merak kami bergantian menjadi RC, namun yang pertama kali adalah Roy karena yang lain tidak tahu rutenya.

Kondisi jalan cukup kondusif untuk dilintasi walau di beberapa titik ada proses peninggian jalan, bergelombang, dan tidak ada penerangan jalan.

Menjelang Merak kami beristirahat sebentar, meluruskan kaki, meneguk air, bersenda gurau, dan berkenalan secara resmi dengan Henry.

Selanjutnya kami memasuki pelabuhan Merak dengan Fahmi memimpin di depan. Biaya untuk penyebrangan sepeda motor kalau saya tidak salah ingat 32.500. Oleh petugas kamu di giring ke dermaga dua. Saat kami sampai di dermaga dua terlihat kapal Jatra 2 sedang merapat, untuk itu kami manfaatkan waktu untuk bercanda dan berfoto – foto ria.

Setelah memarkir motor kami dibawa Fahmi untuk memasuki ruang eksekutif dan membayar biaya tambahan seharga 11.000 Rupiah. Saat itu ruangan tidak terlalu ramai dan setelah berfoto – foto ria dan bercanda, masing – masing dari kami kecuali saya mengambil waktu untuk tidur. Karena tidak dapat tidur maka saya memakai kamera Harry dan jepret sana sini untuk mengisi waktu.

 

Buat saya pengalaman menyebrang selat Sunda dengan kapal laut adalah pengalaman yang sudah sangat lama sekali tidak saya lakukan. Terakhir mungkin sekitar 15 tahun yang lalu.

 

Tagged , , , , , , , ,

Lensa Turing

Jakarta – Teluk Kilauan (Lampung)

30 September – 2 Oktober 2011

Pre

 

Saya dan seorang sahabat (Harry) beberapa waktu silam merencakan untuk setidaknya sebulan sekali melakukan turing jarak pendek atau menengah. Alasannya karena kami berdua suka turing santai dan Harry ingin memaksimalkan hobby fotografinya. Di suatu waktu kami membaca tulisan tentang Teluk Kilauan di Lampung dan kami memutuskan untuk berturing wisata ke sana.

 

In my humble opinion, turing wisata adalah: Melakukan dan menikmati perjalanan keluar kota menggunakan sepeda motor dengan berkelompok (lebih dari satu) menuju sebuah tempat dengan tanpa tergesa di jalan dan kalau bisa membawa kamera 😀

 

Harry kemudian mengajak Roy – salah satu mentor dia dalam fotografi – untuk ikut dalam turing ini. Alasannya? Dugaan saya karena Harry berharap dapat menjadi model dari bidikan kamera Roy serta belajar fotografi lebih dalam di Teluk Kilauan. Roy antusias dan memastikan diri untuk ikut.

Kemudian saya mengusulkan agar mengajak rekan TiKus yang berasal dari Lampung, keluarlah nama Fahmi dan Zelik. Alasannya? Karena kami belum mengenal Lampung sama sekali, jadi semacam membutuhkan penunjuk jalan dan “tuan rumah”. Zelik di hari H memutuskan untuk tidak ikut karena tangkinya bocor. Beberapa rekan TiKus lain yang coba kami ajak menyatakan tidak ikut karena alasan yang berbeda – beda. Roy memberi info kepada kami bahwa ada dua rekannya pehobi fotografi yang akan ikut walaupun akhirnya hanya satu orang yang ikut dan jadi boncenger.

Jadi total yang ikut adalah saya, Harry, Roy, Fahmi, Henry (teman Roy).

 

Turing wisata lebih asyik dilakukan dalam kelompok kecil untuk mempermudah koordinasi di dalam perjalanan.

 

Teluk Kilauan adalah sebuah teluk yang terletak di S5.749252 E105.192740 (silahkan masukkan huruf dan angka tersebut di google map). Ia masuk ke dalam wilayah desa (Pekon) Kilauan Negeri, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

 

Berbagai persiapan dilakukan. Memastikan kesehatan sepeda motor, kelengkapan berkendara, cadangan parts tunggangan, kamera, tool kits, dll. Beberapa hari sebelum berangkat ditemui bahwa ada retakan di sasis sepeda motor Roy, roda belakang Harry menggesek rantai (?), Fahmi mengganti bannya dengan merk yang cukup dikenal sebagai ban yang licin. Roy dan Harry kemudian menyatakan bahwa masalahnya sudah diatasi.

 

H-1 kami berkumpul di Seven Eleven Menteng untuk membahas lebih detail persiapan termasuk jam dan titik kumpulnya. Di sepakati bahwa saya, Harry, dan Fahmi berkumpul di kantor Harry kemudian kami menuju KFC Indosiar, Daan Mogot untuk bertemu dengan Roy dan rekan.

 

Briefing selesai dan kemudian kami pulang ke tempat kami masing – masing untuk beristirahat dan mematangkan persiapan personal. Tidak sabar untuk tiba di Kilauan.

 

Bersambung

 

Tagged , , , , , , ,
%d bloggers like this: