Tag Archives: Pandeglang

A Trip To Tanjung Lesung (Part 1)

Ini adalah kali ketiga saya melakukan perjalanan bersama kawan dalam lingkup Lensa Turing (@lensaturing). Lensa Turing dimotori oleh tiga orang yakni saya (@meyerjps), Arry (@idharri), dan Roy (@dialahir). Konsepnya adalah melakukan turing sekaligus memuaskan hobi memotret kami. Menikmati alam dan mengabadikannya dengan lensa kamera yang kami bawa. Untuk itu kami melakukan turing menuju tempat-tempat dimana terdapat pemandangan alam yang menarik.

Kali pertama kami melakukan perjalanan adalah di akhir Oktober 2011, menghampiri Teluk Kilauan atau Dolphin Bay di Lampung, Sumatera. Tambahan peserta selain kami bertiga adalah Fahmi (@ujankfahmy) dan Henry (seorang fotografer handal dan boncenger Roy kala itu). Perjalanan kami mulai Jumat malam dan kembali di Jakarta Minggu malam. Cerita lengkapnya akan menjadi postingan sendiri nanti, ini salah satu foto trip ke Teluk Kilauan, Lampung, Indonesia.

Perjalanan kedua yang kami lakukan adalah ke Dieng, Jawa Tengah. Tambahan peserta perjalanan adalah Zeliq (@zeliqmsubing), Henry (kali ini ia membawa motor sendiri), dan Wildan (@wildanwaldo). Dari Jogja datang menyusul ke Wonosobo, Okky (@oqik_kembunk). Seperti biasa perjalanan kami mulai di Jumat malam. Kali ini dengan satu dan lain alasan maka hari kami tiba kembali di daerah asal kami berbeda-beda. Saya tiba di Jakarta Senin dini hari. Zeliq Senin pagi. Henry Senin malam. Arry Senin sore. Wildan dan Roy Kamis malam. Cerita lengkapnya akan kami share nanti. Ini satu foto trip ke Dieng


Kembali ke perjalanan Lensa Turing yang ketiga, ke Tanjung Lesung, Banten. Pesertanya tambahannya adalah Thessa (pacar baru Arry, ciee. Boncenger), Dilla (pacar Roy. Boncenger), Ari (teman Dilla), Milan (Abang Roy), Wildan (sepertinya akan terus menerus ikut nih dia), Wewe (teman kami, ayah satu anak. Akhirnya bisa dapat SIT aka Surat Ijin Turing dari istrinya), dan Yudi (teman kantor Wewe). Total 10 orang yang berangkat. Fahmi batal karena menjelang ujian. Eka batal karena memilih untuk membeli velg baru, biar makin cihuy tampang motornya.

Perjalanan direncanakan mulai jam 10 malam dari sekitaran Senayan walaupun realisasinya tidak demikian. Arry, Thessa, dan Roy berangkat dari Senayan. Saya, Wildan, Wewe, dan Yudi berangkat dari Tanjung Barat. Kami kemudian bertemu di depan UIN Ciputat untuk menuju rumah Dilla. Di rumah Dilla juga sudah menunggu Ari. Dari rumah Dilla kami menuju kawasan DPRD Tangerang untuk bertemu Milan.


Setelah semua lengkap kami kemudian mulai melakukan perjalanan melalui Serang dan Labuhan, tentu diawali dengan doa bersama agar perjalanan kami lancar dan selamat sampai kembali ke tempat tinggal kami masing-masing. Berdasarkan info yang kami kumpulkan, perjalanan dari Jakarta menuju Tanjung Lesung  dengan menggunakan sepeda motor akan lebih kurang enam jam. Di luar waktu istirahat, sholat, makan, poop, pipis, atau apapunlah itu.

Dalam Lensa Turing tidak ada formasi baku siapa yang menjadi petugas dikala riding. Namun ada beberapa kebiasaan yang biasa terjadi bila kami melakukan perjalanan. RC biasa diisi oleh Roy, Wildan, atau saya. Sweeper, Wildan. Dalam perjalanan ini Roy menjadi RC, Wildan dan Wewe menjadi sweeper. Sedikit curcol, saya menjadi RC hanya ketika tahu jalan saja 😀

Beberapa jam berjalan Roy dan Milan bertukar motor karena lampu utama motor Roy dirasa kurang memadai untuk menerangi jalan. Setibanya di Serang sambil beristirahat sejenak, Milan menemukan masalah pada motor Roy. Rem belakang nyaris blong. Dengan tools yang cukup lengkap Milan, Roy, dan kami coba memperbaiki masalah yang ada namun tidak terlalu berhasil. Akhirnya perjalanan kembali dilanjutkan dengan Milan mengendarai sepeda motor Roy nyaris tidak memiliki rem belakang, plus lampu belakang (rem) tidak nyala. Mungkin Roy lupa membayar tagihan listrik ke PLN.

Kondisi jalan dari Tangerang menuju Serang ketika itu cukup banyak perbaikan jalan. Jumlah kendaraan yang melintas tidak terlalu banyak. Hanya di beberapa titik-titik tertentu terjadi antrean, misalnya pasar dan di ruas jalan yang diperbaiki. Ada satu kejadian unik ketika beberapa dari kami menepi dan yang lain mengisi bahan bakar. Di ruas jalan berlawanan dari kami, ada seorang perempuan paruh baya mengendarai sepeda motor metik (matic) dengan lambat di tengah jalan sambil asyik bertelepon sementara di belakangnya ada dua buah truk besar yang mana salah satu truk itu telah empat sampai lima kali membunyikan klakson bersuara besar, sangat besar. Kejadian jenaka itu memancing kami untuk menyoraki si perempuan. Tentu pula kejadian itu jadi santapan empuk bagi Wewe untuk dijadikan joke. Berkali-kali saya sarankan agar Wewe ikut stand up comedy. Juara.

Menjelang subuh kami beristirahat dan melakukan sholat subuh di Masjid Agung Pandeglang. Selepas Sholat kami berdiskusi sebentar untuk memutuskan apakah akan terus melanjutkan perjalanan atau beristirahat (tidur) sekitar dua jam di sana. Mengingat kami membawa boncengers perempuan yang asumsi generalnya secara fisik tidak setangguh beberapa laki-laki yang ada saat itu. Mohon dicatat, beberapa saja loh. LOL.


Setelah mendengar argumen dan menimbangnya, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kami akan berhenti di tempat yang cukup kondusif untuk beristirahat dan makan. Di sekitar Masjid Agung itu belum ada tempat makan atau warung yang buka, kecewa. Lanjutan perjalanan subuh itu berhenti di sebuah pelataran parkir makam Syekh Mansyur yang ada di pinggir jalan. Masih cukup pagi ketika kami tiba di sana sehingga parkiran masih cukup sepi. Kami memarkir motor kami dan membeli makanan di warung nasi. Cukup murah. Untuk nasi uduk, telor balado, dan tempe bumbu dihargai lima ribu rupiah. Beberapa dari kami memilih untuk menyantap mie instan. Beruntungnya kami karena beberapa saat kemudian kami menyadari bahwa tepat di sebelah warung makan itu adalah bengkel dan pemilik bengkel pagi itu membuka bengkelnya dikala kami semua sedang menikmati makan pagi. Ups, tidak semua, Wewe tetap sibuk menyeruput kopi hitam pekatnya.

Segera sepeda motor Roy didorong ke bengkel untuk dibereskan masalah rem belakangnya. Milan dan Roy mendampingi pemilik aka mekanik memperbaiki masalah. Sementara yang lain mencari kesibukan sendiri. Ngobrol, tiduran, bercanda, ngopi, mencoba motor Ari, dll.

Hampir dua jam masalah belum dapat diselesaikan. Asumsi kami si mekanik kerja dengan prinsip trial and error. Kantuk makin tidak tertahankan. Saya memilih untuk menyiram tenggorokan saya dengan minuman berenergi, terpaksa. Beruntunglah Wewe ikut dalam perjalanan ini, dia menyegarkan (setidaknya saya) dengan celotehannya. Dia men-dubbing bapak mekanik yang bekerja memperbaiki rem didampingi anaknya. Entah dapat ide dari mana, si anaknya dinamai Ipung. Sampai saat ini, seminggu setelah perjalanan selesai dilakukan, Ipung tetap menjadi joke happening diantara kami.

Dari tempat ini Ari memimpin kami sampai ke penginapan karena ia yang sudah pernah ke Tanjung Lesung sebelumnya.

Kondisi jalan dari Serang sampai Masjid Agung Pandeglang cukup baik. Dari Masjid Agung sampai tempat ini membuat saya seperti habis disiram air es, kantuk terlupakan karena banyak lubang dan tambalan.

Sekiranya jam 10 pagi kami mulai memasuki kawasan Tanjung Lesung. Tiba di home stay kami disambut hangat oleh tuan rumah. Dilla memilih tempat yang baik sekali sehingga segera setelah unpack barang bawaan dari motor kami segera terlelap.

Menuju area Tanjung Lesung lagi-lagi kami dihadapkan pada kondisi jalan yang penuh dengan perbaikan di sana-sini.

-Akhir Part 1 –

* Semua foto adalah milik Roy Prasetyo dan Arry untuk Lensa Turing

Advertisements
Tagged , , , ,
%d bloggers like this: