Tag Archives: Lampung

Selamat Pagi Sumatera II

Ini postingan kedua tentang perjalanan saya menyisir pulau Sumatera melalui lintas timur dari Jakarta hingga Medan.

image

Seperti yang sudah disinggung di postingan sebelum ini, saya melakukan perjalanan dengan KIA Sportage 2 dengan jumlah penumpang sebanyak lima orang. Hujan menyisakan jalanan becek dan itu semua menghasilkan ‘lukisan alam’ yang menarik di  body mobil.

image

Satu gambaran seputar jalan di lintas Sumatera. Penuh sesak dengan kendaraan besar.

image

Di antara sesaknya kendaraan besar, saya menemukan satu di antara sekian yang tengah beristirahat di area perkebunan di pinggir jalan.

image

Jalan lintas Sumatera di daerah Lampung, cuaca terkadang begitu terik. Jalanan kadang begitu kosong. Tetap berkonsentrasi dan menjaga kecepatan.

image

Suatu malam menjelang sebuah kota.

Advertisements
Tagged , , , ,

Lensa Turing

Jakarta – Teluk Kilauan (Lampung)

30 September – 2 Oktober 2011

Hari 1 – Pulau Sumatera – Bandar Lampung – Pantai Klara – Teluk Kilauan.

Jam 10 atau 11 kami berangkat dari rumah Fahmi. Semangat dan tenaga baru siap mengantar kami untuk menikmati tempat tujuan, Teluk Kilauan. Diawal perjalanan dari kota Bandar Lampung menuju Teluk Kilauan kami menemui beberapa kemacetan. Ketika mulai meninggalkan kota maka kami menemui jalan yang cukup sempit, berlubang rendah, dan tambalan di sana – sini. Kemudian kami mengisi bahan bakar kendaraan kami di spbu terakhir sepanjang rute Bandar Lampung – Teluk Kilauan.

Kami juga sempat berbelanja di sebuah mini market karena menurut info yang kami terima dari berbagai sumber, ketersediaan air di Teluk Kilauan sangat tidak memadai. Maka kami pun memutuskan membeli air mineral beberapa botol, lotion anti nyamuk, dan camilan. Di mini market ini kami juga memastikan bawaan di jok belakang atau box dalam keadaan terikat kencang.

Pit stop kami selanjutnya adalah pantai Klara. Pantai yang indah dan sepertinya cukup sering dikunjungi masyarakat, hal ini terlihat dari adanya pintu masuk, tarif parkir roda dua dan empat, penjaja makanan dan minuman, serta saung saung untuk berteduh. Kami tidak lama di Pantai Klara, hanya meregangkan badan dan berfoto – foto dan segera melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan kondisi jalan cukup memadai hingga sebuah komplek marinir, selepas itu “selamat datang” di jalan rusak 😀

Dengan kondisi jalan yang normal mestinya komplek marinir – teluk kilauan dapat di tempuh dalam waktu sejam menurut estimasi saya pribadi, namun dengan kondisi seperti ini waktu tempuhnya menjadi sekitar dua jam. Ada sebuah hiburan menarik sepanjang jalan rusak itu yakni rumah panggung (yang mungkin) adalah rumah adat Lampung. Lumayan membantu kejenuhan melihat jalan rusak di bawah terik matahari.

Setelah melalui sebuah turunan yang curam (yang konon sebelum di beton adalah satu titik terganas menuju teluk kilauan) akhirnya kami sampai di sebuah perkampungan teluk Kilauan. Seperti yang sudah kami baca dan dengar, ada beberapa pura di kampung ini karena cukup banyak masyarakat Bali yang berdiam di tempat ini. Kami melanjutkan perjalanan sampai ujung aspal yang rupanya bukan itu tempat yang kami tuju, selidik punya selidik akhirnya kami bertemu dengan orang yang sejak dari Jakarta sudah di hubungi oleh Roy untuk masalah penginapan. Kami kemudian memarkir motor kami dan mulai menyebrang ke Teluk Kilauan dengan perahu. Kami menginjak pulau di teluk Kilauan sekitar pukul 17.30. Segera unpack dan berlari ke pantai untuk menikmati pemandangan dan bermain air, namun sayangnya sudah terlalu gelap. Akhirnya kami ngobrol di bibir pantai dan selang sejam kemudian menikmati makan malam yang sudah kamu pesan sebelumnya.

Makan malam yang sederhana namun bagi saya pribadi terasa begitu nikmat. Di tempat ini ada sebuah tempat MCK dan televisi parabola. Selepas makan malam dan ngobrol akhirnya satu per satu dari kami terlelap tidur. Di pagi hari Roy dan Henry sudah tidak ada di tempat semula mereka tidur, kamera mereka pun tidak di tempatnya. Saya bergegas bangun dan meminjam (ga pake bilang sih) kamera Harry. Sepanjang pagi dan siang kami habiskan untuk berfoto dan bermain air. Pukul dua siang kami meninggalkan pulau dan menyempatkan berfoto bersama pengelola pulau.

 

 

Dalam perjalanan pulang tidak banyak berbeda dengan perjalanan menuju tempat ini. Kami bersyukur kami dapat selamat di rumah kami masing – masing sekitar pukul empat pagi. Henry yang di Bekasi akhirnya memutuskan menginap di rumah Roy kala itu. Kami juga bersyukur perjalanan ini lancar dan cuaca cerah. Semoga dilain waktu kami punya kesempatan untuk berkendara bersama kembali menuju tempat – tempat eksotis lainnya di Indonesia.

 

Salam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tagged , , , , , , ,

Photo (s)

Here i’m discuss something with my friend, Fahmi. I don’t remember what were we’d discussed.

Or maybe it’s just an act to be captured by the photograpers :p

Tagged , , , , , , , ,

Ahaa! still another photo from Teluk Kilauan trip, and still another picture of Honda New Megapro. Enjoy 😀

Tagged , , , , , , ,

Lensa Turing

Jakarta – Teluk Kilauan (Lampung)

30 September – 2 Oktober 2011

Hari 1 – Pulau Sumatera – Bakauheni – Bandar Lampung.

 

Kecuali saya, semua terbangun ketika terdengar pengumuman bahwa kapal Jatra 2 akan segera sandar di Bakauheni, Lampung. Kamipun beberes dan segera menuju tempat parker ke kendaraan. Setelah keluar dari kapal kami langsung melaju menuju sebuah rumah makan Padang rujukan Fahmi untuk sholat subuh dan makan. Ketika keluar Bakauheni kami langsung disambut jalan yang bergelombang. Mengingat hari masih sangat pagi maka lalu lintas tidak terlalu padat, namun ada satu kendaraan sangat besar yang membawa muatan yang lebarnya menutupi seperempat lebar jalan dua arah. Wow! This is Sumatera!

Sesampainya di tempat yang dirujuk Fahmi ketiga rekan saya Harry, Fahmi, dan Roy bergegas untuk sholat subuh. Setelah sholat subuh kami sempat bercanda untuk mampir untuk sarapan ke rumah Fahmi, dan ternyata Fahmi langsung telepon ke orang tuanya untuk kasih kabar bahwa dia dan kami akan mampir ke rumahnya untuk sarapan. Jadilah rencana perjalanan kami sedikit berubah untuk hal yang menyenangkan.

Kondisi jalan menuju Bandar Lampung cukup baik mesti harus berhati – hati karena jika saya perhatikan banyak jalan yang ditambal namun tambalannya tidak rata sehingga kurang nyaman untuk dilalui. Kami sempat berhenti sejenak untuk meregangkan kaki dan Roy mengeluarkan kameranya. Henry yang menjadi boncengers Roy menjadi tukang jepret sepanjang perjalanan.

Di sebuah tempat dalam perjalanan dari Bakauheni menuju Bandar Lampung ada sebuah jalan yang menurun dan menikung cukup panjang. Dalam logika saya di tempat ini pasti sering terjadi kecelakaan sehingga dibuat pembatas jalan khusus dan banyak rambu yang mengingatkan untuk berhati – hati dan anjuran menurunkan kecepatan.

Memasuki kota Bandar Lampung matahari mulai terik dan lalu lintas menjadi lebih padat, dengan kondisi saya yang mengantuk kondisi seperti ini menjadi suatu tantangan tersendiri. Dalam hati saya bersyukur bahwa kami akan mampir ke rumah Fahmi, saya berpikir bahwa setidaknya saya sempat untuk tidur sejenak di sana karena sungguh sangat berbahaya melanjutkan perjalanan ke Teluk Kilauan –yang masih empat jam lagi- dengan kondisi seperti ini.

Sampai di rumah Fahmi kami beristirahat, makan, dan tidur. Surga pertama dalam perjalanan kami. Pilihan yang tepat untuk mengajak Fahmi J

Sekedar catatan tambahan, tiupan angin selama perjalanan Bakauheni menuju kota Bandar Lampung cukup terasa dan sesekali membuat limbung motor.

Tagged , , , , , ,

Photo (s)

Ini salah satu foto yang diambil oleh Henry kala kami dalam perjalanan ke Teluk Kilauan Lampung.

Fahmi menjadi RC, Roy dan Henry maju mundur untuk mengambil foto.

Tagged , , , ,
%d bloggers like this: