Tag Archives: Bakauheni

Selamat Pagi Sumatera!

Sejak pertengahan Desember 2012 hingga awal Januari 2013 kemarin saya melakukan perjalanan ke Sumatera Utara dari Jakarta melalui Lintas Timur Sumatera dengan Kia Sportage 2. Dengan jumlah penumpang lima orang, banyak cerita dan kejadian yang saya alami.

Sebelum lanjut menuliskan cerita ini, jika anda jeli maka anda dapat tahu bahwa wordpress saya ini sudah lama tidak diperbaharui dengan postingan. Sebabnya bukan karena sepenuhnya saya sibuk, tapi karena saya bukan seorang penulis profesional dan penyakit malas amat sering menjangkit hehehe. Selera menulis saya sedang surut namun tidak perlu khawatir dengan selera saya dalam menyantap makanan, masih tetap tinggi pastinya.

Pun sebenernya saat ini saya dalam kondisi yang demikian, nah maka tidak banyak cerita yang akan saya tuliskan. Saya hanya akan banyak berbagi cerita melalui hasil jepretan kamera Olympus yang sahabat saya pinjamkan dan melalui lensa kamera Samsung Galaxy Tab saya. Sayang sekali, entah bagaimana cukup banyak foto hilang dari memory Samsung Tab saya dan sampai sekarang saya belum menemukan cara untuk me-recovernya.

Sudah terlalu banyak basa-basi saya tuliskan di atas. Mari segera simak foto pertama dari perjalanan saya kemarin. Semoga bermanfaat.

image

Ini foto-foto pertama.
Saya mengambil foto ini kira-kira menjelang pukul 6 pagi dari atas kapal Ferry yang berangkat dari Merak menuju Bakauheni. Pagi pertama saya menuju pulau Sumatera dalam perjalanan itu. Sebelum memulai pelayaran selama lebih kurang tiga jam, kami mengantri setidaknya empat jam di pelabuhan Merak. Penyebabnya? Padatnya penumpang dan kendaraan yang ingin menyebrang ke Bakauheni.

image

Setelah lama menunggu antrian di pelabuhan dan buruknya kebersihan dan kenyamanan kapal yang kami dapat, pemandangan ini cukup menghibur. Sepakat?

image

Sampai bertemu di postingan selanjutnya. Selamat Pagi Sumatera!

Tagged , , , , , , , ,

Lensa Turing

Jakarta – Teluk Kilauan (Lampung)

30 September – 2 Oktober 2011

Malam 1 – Pulau Jawa – Grogol – Merak.

Jam menunjukkan pukul 17.00 dan saya bergegas pulang ke rumah dari kantor. Saya, Harry, dan Fahmi berjanji untuk kumpul di kantor Harry sebelum akhirnya bertemu dengan Roy dan temannya di KFC Daan Mogot. Setelah selesai berkemas saya mengambil waktu sejenak untuk beristirahat, meluruskan badan, dan berdoa agar saya dan sahabat – sahabat yang menjalani turing wisata ini dilindungi sampai ke rumah masing – masing.

Sehati-hati apapun kita dalam berkendara namun jika tanpa doa kepada yang maha kuasa, adalah sia sia.

 

 

Di SPBU Shell dekat rumah saya mengisi full tank dan odometer saya reset menjadi 0. Saya penasaran berapa jauh perjalanan yang akan saya tempuh bersama sahabat – sahabat saya nanti. Saya tidak memakai box karena itu saya hanya mengikat bawaan saya di jok belakang, besarnya tidak seberapa karena saya juga tidak terlalu banyak membawa barang selain pakaian. Harry memakai top box, Fahmi tidak memakai box tapi memakai side bag, Roy menggunakan top dan side box (hal ini wajar karena dia dan Henry membawa perlengkapan kamera yang banyak).

Ketika berangkat dari tempat Harry menuju KFC Daan Mogot kami berhenti sejenak karena saya perlu mampir ke ATM. Selepas dari ATM Fahmi baru menyadari kalau kunci untuk gembok side bag-nya hilang dan untuk itu dia perlu kembali ke kosnya untuk mengambil kunci cadangan. Dari kos Fahmi kemudian kami meluncur ke titik kumpul selanjutnya.

Sesampai di sana ternyata Roy dan Henry belum datang untuk itu kami membeli makan dahulu sambil menunggu. Karena ga becusnya jaringan BIS blackberry maka terjadi kesalahpahaman antara kami yang menunggu di KFC dengan Roy dan Henry. Di conference BBM yang kami buat, kami sudah menginformasikan kepada Roy bahwa kami sudah tiba. Namun sampai 30 menit kemudian Roy belum tiba padahal menurut saya dari tempat Roy sampai tempat kami menunggu hanya memakan waktu beberapa menit. Untungnya Roy berinisiatif menelepon kami (kami tidak ada yang menyimpan nomor telepon Roy). Akhir saya putuskan untuk menunggu Roy di pinggir jalan daerah Jembatan Gantung Daan Mogot.

Setelah lengkap kemudian kami mulai berjalan beriringan menuju Merak. Estimasi waktu kami adalah empat jam kemudian baru kami sampai di pelabuhan di selat Sunda itu. Perjalanan kami tempuh dengan kecepatan maksimum 75 km/jam, dimana rata – rata kecepatan kami adalah 60 km/jam. Terlalu pelan? Itulah mengapa saya katakan turing wisata.

Sejak dari Daan Mogot hingga Merak kami bergantian menjadi RC, namun yang pertama kali adalah Roy karena yang lain tidak tahu rutenya.

Kondisi jalan cukup kondusif untuk dilintasi walau di beberapa titik ada proses peninggian jalan, bergelombang, dan tidak ada penerangan jalan.

Menjelang Merak kami beristirahat sebentar, meluruskan kaki, meneguk air, bersenda gurau, dan berkenalan secara resmi dengan Henry.

Selanjutnya kami memasuki pelabuhan Merak dengan Fahmi memimpin di depan. Biaya untuk penyebrangan sepeda motor kalau saya tidak salah ingat 32.500. Oleh petugas kamu di giring ke dermaga dua. Saat kami sampai di dermaga dua terlihat kapal Jatra 2 sedang merapat, untuk itu kami manfaatkan waktu untuk bercanda dan berfoto – foto ria.

Setelah memarkir motor kami dibawa Fahmi untuk memasuki ruang eksekutif dan membayar biaya tambahan seharga 11.000 Rupiah. Saat itu ruangan tidak terlalu ramai dan setelah berfoto – foto ria dan bercanda, masing – masing dari kami kecuali saya mengambil waktu untuk tidur. Karena tidak dapat tidur maka saya memakai kamera Harry dan jepret sana sini untuk mengisi waktu.

 

Buat saya pengalaman menyebrang selat Sunda dengan kapal laut adalah pengalaman yang sudah sangat lama sekali tidak saya lakukan. Terakhir mungkin sekitar 15 tahun yang lalu.

 

Tagged , , , , , , , ,
%d bloggers like this: