Dua Rasa Spiderman

Spiderman vs The Amazing Spiderman dalam 2 film yang berbeda sudah cukup lama beredar untuk ditonton. Sudahkah anda menonton keduanya?

Spiderman sebagai pembuka trilogi film yang di sutradarai Sam Raimi menyodorkan Tobey Maguire dan Kirsten Dunst sebagai pemeran dua tokoh utama, Spiderman (Peter Parker) dan Mary Jane Watson, sukses menggaungkan kalimat ‘with great power comes great responsibility’ ke manca negara di tahun 2002. Dua film selanjutnya menjadi pengokohan bahwa Spiderman versi film adalah Tobey Maguire. Tobey adalah Spiderman versi film, tidak ada yang lain.

Lalu di tahun 2012 setelah melewati serentetan proses di balik layar muncul The Amazing Spiderman, tanpa Sam Raimi, tanpa Tobey Maguire, dan tanpa Kirsten Dunst. Mengejutkan. Tanpa tiga pilar, bisa apa? begitu kira-kira pemikiran orang-orang. Setidaknya itu pertanyaan saya.

The Amazing Spiderman di sutradarai oleh Marc Webb. Karya beliau yang saya tahu sebelumnya adalah (500) Days of Summer (Zooey Deschanel, Joseph Gordon-Levitt).

Sebagai pemeran Spiderman dan Peter Parker adalah Andrew Garfield. Siapa dia?! bisa apa?! Bahkan di The Social Network saja saya tidak sadar ia bermain sebagai Eduardo Saverin. Well mungkin karena saya terlalu sibuk memperhatikan akting Justin Timberlake 🙂

Ayolah, Tobey adalah Spiderman versi film dan Spiderman versi film adalah Tobey. Sulit menerima bahwa kali ini orang lain yang memerankan. Dua puluh menit menonton The Amazing Spiderman, anggapan saya di atas mulai goyah. Setelah selesai menonton anggapan saya di atas pupus. Andrew Garfield sukses menghadirkan Spiderman/Peter Parker yang berbeda. Mana yang lebih baik? tidak ada. Keduanya sama baik menurut saya, Spiderman/Peter Parker yang berbeda rasa tapi satu jiwa. Saya apresiasi Andrew Garfield dengan baik.

Bagi saya yang bukan fans sejati Spiderman awalnya bingung mengapa ada Mary Jane dan Gwen Stacy. Bukankah Spidey girl itu hanya Mary Jane? apakah Gwen Stacy hanya tokoh baru untuk film dan tidak pernah ada sebelumnya dalam komik? Ternyata tidak. Gwen adalah kekasih Peter Parker kala masa SMU dan Mary Jane adalah kekasih Peter semasa kuliah. Jadi Kirsten Dunst tidak dapat dibandingkan dengan Emma Stone dalam film Spiderman ini karena mereka berdua mempunyai peran berbeda. Saya tertarik dengan Emma Stone setelah menonton Easy A. Saya tidak menonton The Help, walau menurut banyak orang itu adalah film yang bagus. Emma Stone adalah alasan pertama saya untuk menonton The Amazing Spiderman. Dalam versi komiknya saya tidak tahu siapakah yang akhirnya bersanding dengan Peter Parker pada akhirnya, namun jika mengacu pada dua karakter di dua film ini maka saya lebih mendukung Peter bersama Gwen Stacy 🙂

Kehebatan film The Amazing Spiderman dan kemampuan Andrew Garfield memerankan tokoh Peter Parker/Spiderman dengan baik tentu tidak lepas dari jasa Marc Webb itu sendiri. Marc Webb berhasil menyajikan tontonan yang berbeda dari apa yang ditawarkan Sam Raimi dengan trilogy-nya. Marc tidak terbawa gaya Sam Raimi, Marc tidak mencontek gaya Sam Raimi, ia memberi warna yang berbeda. Usaha yang luar biasa mengingatkan apa yang dihasilkan Sam Raimi sudah begitu lekat bagi penonton. Menawarkan rasa yang berbeda ketika orang-orang yang dilayani sudah terbiasa dengan suatu rasa dan kemudian orang-orang itu menerima rasa baru itu adalah sebuah usaha yang sangat patut diacungi dua jempol.

Kita tunggu akan seperti apa Spiderman karya Marc Webb di 2014.

Tagged , , , , , , ,

The Red Devil Is In Red Alert

Ketika menyaksikan Manchester United melakukan laga tandang melawan Southampton di Minggu malam waktu Indonesia Barat saya terpikirkan berapa hal dan jika disimpulkan maka hasilnya menjadi judul tulisan ini. Dalam konteks bagi internal klub, red alert yang dimaksud mempunyai makna yang baik dan sebaliknya. Saya akan memulai dengan yang baik.

Mampu menang dalam waktu 94 menit setelah sebelumnya sempat tertinggal dua kali dan diwarnai insiden penalti yang gagal adalah karakter juara yang seharusnya selalu ada di Manchester United. Terlebih lagi mereka melakukan ini dalam pertandingan melawan tim tuan rumah yang tampil ngotot meraih kemenangan di hadapan pendukungnya di stadion St. Marry. Ketika asa pendukung The Red Devil untuk melihat tim kesayangannya dapat meraih tiga poin sudah semakin tipis dan ketika pencomooh sudah menyiapkan bom celaan, tim ini bangkit dan membalikkan keadaan. Persis seperti ketika mereka meraih treble di tahun 1999. Jika mental bermain seperti ini terus ada dalam tim sepanjang musim maka peluang untuk meraih gelar juara liga akan semakin besar, pun demikian dengan peluang menjadi juara diberbagai kejuaraan domestik atau Eropa. Red Alert dikirimkan Manchester United ke lawan-lawannya.

Red Alert lainnya adalah kebalikan dari yang baik.

Robin Van Persie mencetak hattrick sebenarnya adalah hal yang biasa, kualitasnya sebagai salah satu striker tajam di dunia sudah tidak diragukan. pertanyaannya adalah jika saja Van Persie tidak bermain dalam pertandingan itu, akankah Manchester United meraih tiga gol guna meraih tiga poin? Rooney cidera, namun jika pun tidak, melihat performa ‘Shrek’ di dua pertandingan sebelumnya, dia membutuhkan waktu untuk menjadi striker gempal berambut lebat yang ditakuti bek dan kiper lawan seperti musim lalu. Atau dapatkah kita berharap pada Welbeck? Chicarito? Atau Berbatov yang sedianya tidak akan dijual jika Van Persie tidak datang ke United? Jawabannya tidak.

Dikalangan pengolok United berhembus julukan baru untuk tim ini setelah pertandingan melawan Southampton itu, Van Persie United. Julukan yang muncul karena mereka menilai United musim ini akan menjadi Arsenal musim lalu yang sangat bergantung pada Robin dari Belanda. Julukan yang ada benarnya karena si kaki kaca ini kini mulai menjadi andalan tim untuk membobol gawang lawan. Bagaimana jika musim ini cideranya sering kambuh? Atau jika sejak pertandingan keempat, ia cidera panjang? Red Alert.

Jika dianalogikan dengan superhero Batman, maka awalnya adalah Robin is now in Wayne’s manor. Robin Van Persie datang ke ‘istana’ Wayne Rooney untuk kemudian mereka bersama-sama memenangkan pertempuran melawan setiap musuh. Ingat, tokoh utama adalah Wayne Rooney. Bagaiamana jika Robin yang dengan kualitasnya tidak mau hanya menjadi sekedar tokoh pendamping? Bagaimana Wayne menyikapi kenyataan bahwa sanjungan fans mulai beralih darinya menuju Robin? Jika kemudian Manchester United menjadi Robin’s manor, ini adalah Red Alert selanjutnya untuk The Red Devil di musim ini.

Duo Rio Ferdinand dan Kapten Nemanja Vidic semestinya adalah jaminan bagi De Gea atau Lindegaard bahwa tugas mereka akan jadi lebih mudah untuk berlomba-lomba membuat cleen sheet di musim ini. Dalam pertandingan melawan Southampton kemarin, dan pertandingan sebelumnya di musim ini, hal itu seperti gosip murahan tayangan TV yang dimunculkan hanya untuk memenuhi durasi. Duo terbaik Manchester United gagal memberikan jaminan pertahanan yang kokoh? Red Alert.

Begitulah Red alert the Red Devil

Tagged , , , ,

Universal Payment Card

Tadinya di tulisan ini saya ingin menuliskan ide tentang kartu yang digunakan untuk membayar pembelian bahan bakar minyak di berbagai SPBU tanah air. Layaknya kartu debit, jumlah saldo dalam kartu akan terpotong sejumlah pembelian yang dilakukan. Ada PIN yang digunakan sebagai persetujuan pembayaran.

Kartu yang mestinya dikeluarkan oleh Pertamina ini dapat di top up dari berbagai atm bank di Indonesia. Lebih praktis dan aman. Kelebihannya dibanding kartu debet atau kredit adalah kartu ini pasti diterima di semua SPBU Pertamina, sedangkan kartu debet atau kredit tergantung apakah SPBU tersebut mempunyai alat penerima pembayaran dari bank tersebut atau tidak.
Jika menempuh perjalanan jauh (mudik atau turing misalnya) maka dengan adanya kartu jenis ini persediaan uang cash dapat dikurangi untuk keamanan dan kepraktisan. SPBU pun lebih aman dari ancaman perampokan.

Menariknya lagi kartu ini dapat digunakan sebagai hadiah, misalnya dari perusahaan kepada konsumennya. Pertamina pun berpeluang meraih keuntungan tambahan dengan adanya proyek ini.

Seperti itu yang tadinya saya ingin tulis, tapi kemudian judulnya berubah karena saya berpikir terlalu banyak kartu yang ada di dompet setiap orang nantinya. Kenapa tidak dibuatkan saja UPC (Universal Payment Card)? Sebuah kartu layaknya kartu identitas seseorang yang tentunya dapat digunakan untuk membayar berbagai hal dibanyak tempat. Untuk berbelanja di mini market, hypermart, pembayaran tol, mengisi bahan bakar, membeli pulsa, membayar listrik, dan membayar berbagai tagihan lainnya.

Begitulah sedikit apa yang ingin saya share. Semoga bermanfaat.

Tagged ,

Manchester United vs Fulham

Yeah, tiga angka pertama musim ini akhirnya bisa diraih. Senang tapi tetap khawatir. Lho kenapa?

Saya kebetulan tidak menyaksikan siaran pertandingan ini secara langsung. Saya berkesempatan melihat cuplikan pertandingan dan membaca di sana-sini tentang pertandingan itu beberapa saat setelah laga berakhir. Jelas 2 gol yang bersarang di gawang bukan sesuatu yang bisa memberi ketenangan. Sekali lagi, MUFC beruntung karena hanya dua gol yang bersarang padahal kesempatan menyarangkan lebih dari dua gol yang dimiliki Fulham cukup banyak.

Memang di pertandingan pembuka musim ini Fulham berhasil menghujam gawang lawannya dengan lima gol tanpa balas, namun kalau Manchester United bermimpi meraih gelar ke dua puluh di musim ini maka dua gol dalam laga pertama di Old Trafford musim ini tersebut semestinya tidak boleh ada. Saya membayangkan apa yang akan terjadi ketika Manchester United menghadapi lawan yang lebih tangguh semisal Manchester City atau Chelsea yang tampil solid di tiga pertandingan awal mereka musim ini. Jangan-jangan moment 1-6 akan terjadi lebih dari satu kali musim ini.

Di pertandingan berikut, Manchester United akan away ke St. Mary’s Stadium, markas Southampton. Meski kalah dari Wigan Athletic di pertandingan kandang pertama mereka pekan lalu, permainan The Saints tidak boleh diremehkan. Ingat bagaimana mereka membuat Manchester City bekerja sangat keras untuk meraih tiga poin di Etihad Stadium?

Walau katanya liga adalah ibarat lomba marathon, bukan sprint, tapi perlu menemukan permainan terbaik sedini mungkin. Jika baru ditemukan menjelang paruh musim, akan sangat sulit atau bahkan mustahil untuk mengejar ketertinggalan dari lawan-lawan.

Manchester United membutuhkan clean sheet se-segera dan sesering mungkin!

Tagged , , , , ,

Manchester United 1st Game

Hasilnya tentu sudah pasti, Manchester United kalah 0-1 dari klub asuhan David Moyes, Everton. Tidak ada poin yang bisa diraih klub peringkat dua musim lalu ini sementara juara bertahan musim lalu menunjukkan permainan luar biasa setelah memetik kemenangan dramatis atas Southampton.

Saya ingin mengupas lini per lini dimulai dari kiper. Formasi yang dipakai 4411.

David De Gea menunjukkan kelasnya pada pertandingan itu, utamanya di babak pertama. Beberapa penyelamatan gemilang dilakukannya untuk melindungi gawang dari serbuan lawan. Meski akhirnya kebobolan di babak kedua, De Gea bukanlah pemain yang bisa disalahkan pada kekalahan itu. Lindegaard pasti semakin cemas dengan eksistensinya di Manchester United karena performa yang ditampilkan saingannya anak muda asal Spanyol tersebut.

Rentetan cedera yang terjadi pada pemain belakang membuat Carrick dimainkan menjadi bek tengah. Satu gol kemenangan Everton terjadi karena Carrick tidak mampu menahan Fellaini yang bergerak menyundul bola sepak pojok. Namun Carrick tidak dapat disalahkan, mengingat sejatinya ia tidak memenuhi banyak persyaratan fisik dan kemampuan bak seorang bek tengah.
Secara menyeluruh barisan pertahanan Setan Merah bermain buruk, jika bukan karena keberuntungan dan ketrampilan De Gea maka lebih dari satu gol pasti akan bersarang di tim asuhan Sir Alex Ferguson. Valencia tidak terlalu baik menjaga areanya, Vidic belum bermain baik (mungkin karena cedera selama nyaris setahun), Evra bermain buruk. Secara khusus saya khawatir dengan permainan Evra dari waktu ke waktu. Buruk dalam bertahan ataupun menyerang. Semoga Alexander Buttner yang segera bergabung menjadi solusi untuk sisi kiri pertahanan.

Peter Schemeichel dalam twitnya di paruh babak pertama mengingatkan agar Manchester United mencari cara untuk mematikan Fellaini, saya sepikiran dengannya. Malam itu Fellaini adalah Peter Crouch 2.0, versi yang lebih sempurna dari versi sebelumnya. Lebih berteknik, lebih bertenaga, dan lebih bergerak. Bila Peter Crouch saja sudah mampu merepotkan barisan pertahanan United, apalagi Fellaini. Beruntung hanya satu gol yang bersarang di gawang yang dikawal De Gea.

Duo pemain tengah Scholes dan Cleverley kurang mantap melapis pertahanan dan memainkan bola untuk memulai serangan. Scholes terlalu lambat bergerak, Cleverley tidak banyak membantu karena dia sendiri sudah disibukkan menutup bagiannya. Tadinya saya berpikir duo ini tidak ada dan digantikan dengan trio, dimana Kagawa ada di antara mereka. Scholes dan Cleverley lebih fokus melapis pertahanan dan Kagawa melakukan serangan. Kombinasi umpan di antara mereka bertiga rasanya akan cukup baik untuk memulai skema penyerangan. Hal itu terlihat dalam pertandingan semalam, Scholes dan Kagawa beberapa beberapa kali melakukan sentuhan satu dua. Pun Kagawa dan Cleverley.
Welbeck menjadi sayap kiri dan saya menilai dia bermain cukup baik. Entah apa alasan Sir Alex menggantinya, karena saya melihat dia dapat menjadi trisula maut bersama Rooney dan Van Persie di lini depan. Nani adalah pemain terburuk Manchester United pada pertandingan ini. Gocekan mandek, umpan silang buruk, dan mendapat kartu kuning di menit-menit awal. Jika ada klub yang berminat pada dia di harga 15 jutaan, menurut saya Manchester United harus melepasnya. Dengan sikapnya permainan tim jadi terganggu. Semoga saya salah. Ashley Young dan Valencia boleh menjadi sayap dan hasil uang hasil penjualan Nani dapat dipakai untuk membeli pemain sayap lain.

Rooney sebagai pencetak gol terbanyak bagi tim musim lalu tidak boleh bermain seperti pada pertandingan ini. Beberapa kali kehilangan bola dan salah umpan. Pemain yang menurut saya layak menjadi kapten United 2 atau 3 tahun ke depan ini harus segera memperbaiki performanya. Kombinasi satu dua-nya dengan Kagawa beberapa kali berjalan baik, namun hanya saja beberapa kali itu tidak cukup. Kagawa bermain cukup baik dan menjanjikan sebagai pemain baru.

Ketika Van Persie masuk mestinya Nani yang ditarik keluar, sehingga di lini depan menjadi Rooney di kanan, Persie di kiri, dan Welbeck di tengah. Namun lagi-lagi SAF menurut saya membuat kesalahan dalam situasi panik karena teringgal. Inti masalah permainan United malam itu ada di Nani namun justru dia yang dimainkan lebih lama ketimbang Welbeck. Saya masih ingat ada sebuah akun bola di twitter menyatakan bahwa jika dalam performa terbaiknya Nani bisa menjadi senjata yang mematikan namun sebaliknya ia menjadi perusak permainan tim, malam itu Nani menjadi yang terakhir.

Tidak ada juru selamat dalam pertandingan kemarin, tidak juga Van Persie, pemain yang digadang-gadang sebagai missing piece dari lini depan United.

Malam itu hanya ada sedikit percikan harapan dari permainan Kagawa dan De Gea.

Be better next game!

 

Manchester United 2012 – 2013

Anggap Robin Van Persie jadi skuad Manchester musim ini, dipastikan MUFC mempunyai pilihan yang mumpuni di lini depan untuk membobol gawang lawan. Disebutkan bawah secara statistik Persie dan Rooney saling melengkapi. Persie berjaya dengan kaki kiri dan dan di dalam area kotak pinalti, Rooney sebaliknya, jaya dengan kaki kanan dan dari luar area kotak pinalti. Silahkan ditelusuri lebih jauh tentang statistik mereka berdua yang saling melengkapi. Wellbeck dan striker opurtunis Hernandez menjadi alternatif striker yang tidak dapat diremehkan. Jika Berbatov dan Macheda tidak dijual atau dipinjamkan, tentu amunisi untuk membidik gol ke gawang lawan akan semakin variatif. Jika saat ini PES atau FM diterbitkan maka mengendalikan MUFC akan sungguh menyenangkan.

Itu di sektor depan, bagaimana dengan tengah hingga ke kiper?
Untuk urusan kiper MUFC sangat beruntung karena Lindegaard dan De Gea mempunyai kualitas yang dapat disebut setara. Keduanya harus selalu dalam kondisi top form untuk mencuri kepercayaan dari Sir Alex. MUFC dijamin akan mempunyai standart tinggi untuk urusan penjaga gawang. Sepanjang yang saya tahu bahkan sejak jaman Peter Schemeichel hal ini tidak terjadi. Di Era Fabian Barthez, Tim Howard gagal menciptakan kompetisi tinggi.

Di bagian barisan pertahanan MUFC masih sedikit mengkhawatirkan. Rio Ferdinand Nemanja Vidic dapat dilapis oleh Evans, Jones, dan Smalling. Jones dan Smalling dapat juga menjadi pilihan di bek kanan selain Rafael dan Valencia. Di sisi kiri hanya ada vice captain Patrice Evra, Ezekiel Fryers masih terlalu hijau untuk menjadi deputinya. Jika Leighton Baines jadi berpindah ke Manchester United seperti pernah diisukan di awal masa transfer tentu akan memberi garansi untuk lebih tenang.

Lini tengah semakin sesak dengan hadirnya Kagawa Shinji yang musim lalu menjadi salah satu kartu as Borussia Dortmund. Valencia, Nani, Giggs, Scholes, Young, Cleverley, Carrick, Anderson, Anderson, Fletcher, Bebe, dan Nick Powell. Banyak pilihan, namun diantara nama-nama itu saya masih belum melihat ada satu orang yang bisa memberikan jaminan pelapis yang mumpuni untuk barisan tengah pertahanan, gelandang bertahan yang mumpuni. Yang berfisik kuat, bermain keras, dan tanpa kompromi berhadapan dengan lawan. Carrick, Fletcher, dan Cleverley belum sepenuhnya masuk kategori yang saya sebut. Ini salah satu masalah musim lalu. Masalah lainnya, otak serangan, rasanya akan tertutupi melalui Kagawa. Saya berharap musim ini dapat melihat Cleverley bermain dalam banyak pertandingan, dan Nick Powell memperoleh kesempatan cukup banyak.

Kesemuanya ini menjadi modal yang menjanjikan bagi Manchester United untuk bersaing merebut gelar juara Liga Inggris musim ini. Meski tidak akan mudah tentunya karena klub lain juga melakukan persiapan sebaik-baiknya.

Iseng utak – atik starting eleven Manchester United dalam berbagai formasi.

(Kanan ke kiri)

1. 442
De Gea
Rafael, Ferdinand, Vidic, Evra
Valencia, Kagawa, Cleverley, Nani
Rooney, Van Persie

* Jika Young mengisi posisi Valencia, maka ia dan Nani dapat saling bertukar posisi.

2. 433
De Gea
Valencia, Ferdinand, Vidic, Evra
Cleverley, Kagawa, Carrick
Rooney, Wellbeck, Van Persie

* Alternatif jika bagi Rooney dan Van Persie adalah Nani atau Young. Alternatif bagi Wellbeck adalah Rooney, Van Persie, Hernandez.

~ tulisan ini saya buat sebelum musim baru bergulir. Namun karena ada hambatan maka baru sekarang dapat saya posting.

Tagged , , , ,
%d bloggers like this: