Category Archives: Sepeda Motor

Kisah Di Suatu Sabtu Pagi.

Di suatu pagi, Sabtu, di sebuah jalan raya ibukota, seseorang meluncur di atas kendaraan roda dua bermesin 150cc. Jumlah kendaraan yang agak lengang membuat perjalanan dapat dinikmati lebih baik olehnya karena tidak ada antrian ular besi panjang hasil konfigurasi tak sempurna berbagai jenis kendaraan yang digunakan manusia Jakarta. Cuaca kala itu cenderung mendung dan di beberapa lokasi pengendara itu disapa titik gerimis hujan.

Dengan segala nikmat itu mungkin beberapa pengguna jalan cenderung kian abai pada aturan, kaidah, norma, kesantunan berkendara, atau apapunlah kita menyebutnya untuk membuat berkendara di jalan raya menjadi lebih menyenangkan dan terutama lebih menjamin keselamatan bersama. Dua contohnya adalah saya lebih dari dua kali dipotong dengan cara manusia primitif, dan saya menemukan satu dua kendaraan melaju di jalur kanan namun dengan kecepatan normal lajur kiri.

Manusia primitif ini jika saya tidak salah belum mengenal listrik dan bola lampu yang digunakan sebagai sign untuk berbelok ke kanan atau ke kiri, pun untuk berpindah lajur. Manusia ini juga berpikir sempit, ia merasa mampu berkendara dengan gayanya dan abai akan orang lain yang mungkin lebih berpotensi mengalami celaka karena ulahnya. Cukup tentang manusia primitif.

image

Kembali kemana tulisan ini akan saya bawa. Di suatu perempatan ketika penghitung mundur waktu di lampu lalu lintas menunjukkan angka empat puluhan, dari sisi kanan si pengendara motor terlihat dua orang anak sekolah dasar, mungkin Kelas satu atau kelas dua. Dan satu orang laki-laki paruh baya di belakang mereka membawa tas-tas mereka. Ketiganya berlari bergegas menyeberang jalan.

Mereka, saya, dan anda mungkin sangat mengerti keberingasan pengguna kendaraan bermotor di jalan ketika lampu berganti hijau. Bayangkan ketiga orang ini terjebak di tengah makhluk-mahkluk pengendara kendaraan bermotor sedetik menjelang lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau. Maaf, bahkan mungkin lebih dari sedetik sebelum lampu berganti hijau. Saya ngilu membayangkannya, entah bagi anda,

Pengendara motor yang menikmati perjalanan pagi itu melihat si anak berlari dengan muka riang bersama rekannya. Yang menarik mereka masih sempat melirik penghitung waktu mundur, ketika itu angka menunjukkan tiga puluhan dan terus mengecil. Anak-anak itu berlari dengan ceria, sementara si lelaki paruh baya mengikuti dari belakang.

Melihat tawa riang anak-anak itu adalah puncak sukacita perjalanan Sabtu pagi ini. Melihat anak-anak itu antusias berangkat sekolah (asumsi saya) dan nyaman menyebrang di zebra cross lampu lintas yang tidak dijejali pengguna kendaraan bermotor adalah anugerah pagi itu, setidaknya bagi si pengendara motor itu. Semoga hal ini tidak sekedar menjadi cerita di kemudian hari.

Advertisements
Tagged , ,

Universal Payment Card

Tadinya di tulisan ini saya ingin menuliskan ide tentang kartu yang digunakan untuk membayar pembelian bahan bakar minyak di berbagai SPBU tanah air. Layaknya kartu debit, jumlah saldo dalam kartu akan terpotong sejumlah pembelian yang dilakukan. Ada PIN yang digunakan sebagai persetujuan pembayaran.

Kartu yang mestinya dikeluarkan oleh Pertamina ini dapat di top up dari berbagai atm bank di Indonesia. Lebih praktis dan aman. Kelebihannya dibanding kartu debet atau kredit adalah kartu ini pasti diterima di semua SPBU Pertamina, sedangkan kartu debet atau kredit tergantung apakah SPBU tersebut mempunyai alat penerima pembayaran dari bank tersebut atau tidak.
Jika menempuh perjalanan jauh (mudik atau turing misalnya) maka dengan adanya kartu jenis ini persediaan uang cash dapat dikurangi untuk keamanan dan kepraktisan. SPBU pun lebih aman dari ancaman perampokan.

Menariknya lagi kartu ini dapat digunakan sebagai hadiah, misalnya dari perusahaan kepada konsumennya. Pertamina pun berpeluang meraih keuntungan tambahan dengan adanya proyek ini.

Seperti itu yang tadinya saya ingin tulis, tapi kemudian judulnya berubah karena saya berpikir terlalu banyak kartu yang ada di dompet setiap orang nantinya. Kenapa tidak dibuatkan saja UPC (Universal Payment Card)? Sebuah kartu layaknya kartu identitas seseorang yang tentunya dapat digunakan untuk membayar berbagai hal dibanyak tempat. Untuk berbelanja di mini market, hypermart, pembayaran tol, mengisi bahan bakar, membeli pulsa, membayar listrik, dan membayar berbagai tagihan lainnya.

Begitulah sedikit apa yang ingin saya share. Semoga bermanfaat.

Tagged ,

A Trip To Tanjung Lesung (Part 3 – End)

Bangun pagi sekali di hari Minggu adalah ibarat di barak militer dan Ahad itu saya dibangunkan beberapa saat sebelum matahari muncul di ufuk timur. Terasa kesal namun jika mengingat tujuannya maka sekejap kesal itu hilang. Hari itu adalah hari terakhir kami di Tanjung Lesung. Sesuai rencana hari itu, kami akan berangkat ke pulau Haliyungan sepagi mungkin guna mengejar sunrise. Biaya menyeberang ke pulau adalah tujuh ratus ribu rupiah sudah termasuk sarapan, kelapa muda, perahu, dan snorkling. Jika dibagi sepuluh orang maka biaya per orang hanya tujuh puluh ribu.

Karena laut sedang surut maka kami bergantian menumpang sampan guna menuju kapal utama. Kapal itu memiliki satu nakhoda dan empat anak buah kapal yang memberi pelayanan ramah dan memuaskan.

Sekitar tiga puluh menit waktu yang diperlukan guna menggapai pulau tujuan. Setibanya di sana kami menemukan dua atau tiga tenda, yg sepertinya dipakai oleh sekelompok orang yang berkemah di pulau. Saat persiapan trip ini Dilla memang memberi info kepada kami bahwa tersedia jasa layanan untuk menginap di pulau, namun karena harus membawa tenda sendiri maka disepakati bahwa kami tidak akan menginap di pulau. Cukup merepotkan dan saat itu kami belum tahu kondisi medan di pulau seperti apa. Namun ketika melihat langsung bagaimana kondisi pulau dan lahan berkemahnya, terpikir juga untuk datang kembali ke tempat ini dan menginap di pulau, apalagi jika cuaca sedang bersahabat.

Seratusan meter ke arah timur dari tempat kapal di tambat kami menemukan pantai yang kami tuju. Cukup luas, bersih, namun penuh karang kecil. Segera saja masing-masing dari kami menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas.Β  Yang belum mandi, segera mandi di pantai.

Yang kelaparan, segera makan nasi bekal yang sudah masuk dalam biaya penyewaan perahu.

Membuka sesi foto aka sesi narsis.

Ada pula pasangan yang membangun suasana romantis. Membicarakan tentang keindahan alam atau masa depan hubungan mereka? hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

Yang paling menarik adalah Wewe. Perhatikan foto ini

Ketika mengirim foto ini ke istrinya, istrinya menjawab: “rayuan gombal! Pasti biar dikasih ijin turing lagi tuh”. Mereka memang suami istri yang humoris πŸ™‚

Ketika matahari sudah semakin memberi cahayanya kami memutuskan untuk segera kembali ke perahu dan menuju snorkling spot yang ada sekitar 15 menit dari tempat kami. Sebelum naik perahu tentu kami sempat berfoto dahulu.

Wildan dan Wewe ternyata tidak pandai berenang. Maka menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka untuk snorkling ini, terutama Wildan. Tapi pada akhirnya semua dari kami menjajal untuk terjun ke laut bebas.

Wildan terlihat lega karena sudah berpegangan di tangga setelah asyik snorkling.

Sayangnya angin bertiup cukup kencang sehingga mengakibatkan ombak yang cukup tinggi. Durasi snorkling kamipun tidak berlangsung lama. Sambil menikmati air kelapa muda segar kami berlayar pulang dengan mengitari pulau. Suasana penuh canda dan raut wajah ceria hadir di masing-masing kami. Namun tidak lima belas menit kemudian dimana angin bertiup kencang dan ombak menggoyang kami cukup kencang. Tas dan perangkat kamera sampai harus dimasukkan ke dalam ruang nahkoda karena hempasan ombak cukup banyak masuk ke dalam perahu.

Ada kejadian menarik yang tidak terlupakan bagi kami semua dan tentu bagi Wildan saat itu. Wajahnya pucat pasi dan tidak berani berjalan menuju ruang nakhoda untuk “bersembunyi” seperti yang Wewe lakukan. Kemudian muncul slogan baru untuk Wildan setelah kejadian ini, jaya di darat, mengkeret di laut.

Saya termasuk yang kagum pada kemampuan riding Wildan. Jaya dia di darat.

Dan saya yang termasuk terbahak lebar melihat dia pucat pasi kala itu. Mengkeret di laut πŸ™‚

*piss Kang Wil*

Tapi wajar jika ia menjadi seperti itu mengingat dia tidak bisa berenang meski memakai pelampung.

Untuk beberapa lama setelah tiba di penginapan kembali, Wildan masih terlihat lemas. Untung Wewe ada saat ini. Sahabat kami yang satu ini memang joker yang handal menyegarkan suasana. Kemudian setelah beristirahat dan packing barang bawaan masing-masing, jam 2 siang kami keluar penginapan untuk menuju Jakarta. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pemilik home stay dan berfoto bersama.

Sekedar catatan kecil, sepertinya home stay ini sering dipakai menginap oleh kru salah satu televisi swasta nasional karena banyak sekali dipajang pigura-pigura kru film dan aktifitas mereka selama di Tanjung Lesung. Dengan biaya sebesar300.000 rupiah per malam home stay ini termasuk nyaman dan rekomended.

Sebelum benar-benar meninggalkan kawasan Tanjung Lesung kami menikmati makan siang di warung nasi yang sama seperti kemarin. Pukul 14.30 kami melajukan sepeda motor kami untuk melahap jalanan sejauh lebih kurang 150 KM atau 6 jam. Kecuali Wildan yang kembali ke Bogor.

Lalu lintas sangat ramai dan bahkan di beberapa titik terjadi kemacetan. Namun syukurlah tidak ada halangan berarti sehingga kami semua sehat dan selamat sampai di tempat kami masing-masing. Terima kasih kepada Tuhan YME atas perjalanan ini.

#LensaTuring

* Seluruh foto dalam seri tulisan A Trip To Tanjung Lesung adalah koleksi Roy Praseyto, Arry, Milan, Thessa untuk Lensa Turing.

Tagged , , , ,

A Trip To Tanjung Lesung (Part 2)

Terbangun sekitar jam 2 siang kami segera berkemas untuk mencari makan siang sekaligus menikmati suasana sekitar.

Kami makan siang di warung nasi di pinggir jalan. Harga yang ditawarkan memang tidak dapat dibilang murah walau tidak semahal yang dibayangkan untuk tempat wisata seperti ini. Banyak dari kami yang memesan cumi bakar. Cumi yang besar dan sedap rasanya! Jika di ibukota harganya tentu lebih mahal mengingat ibukota itu kejam, lebih kejam daripada ibu tiri. Termasuk dalam memberi harga.

Sambil makan siang kami mendiskusikan rencana kami berikutnya. Ada dua pilihan, menyebrang ke Pulau Hantu (Haliyungan) atau menuju Pantai Perawan, kami memutuskan untuk ke Pantai Perawan lebih dahulu dan ke Pulau Hantu (Haliyungan) besok subuh.

Setelah makan siang kami kembali ke penginapan. Beberapa dari kami segera berkemas setibanya di penginapan namun saya dan beberapa rekan memilih untuk berjalan ke pantai di depan penginapan setelah sebelumnya meminjam smartphone canggih milik Thessa karena handphone saya butut, pun kameranya. Diantara penginapan dan pantai ada jalan raya dan gugusan pohon kelapa. Setelah beberapa saat di tempat itu kami kembali ke penginapan dan segera berkemas menuju Pantai Perawan. Entah apakah anda berpikir hal yang sama dengan saya ketika mendengar nama pantai itu. Jika ada yang berpikir bahwa penamaan pantai itu karena banyak perawan di tempat itu, mungkin anda perlu membuat janji dengan psikolog.

Masih banyak foto yang akan di share, monggo dilanjut…

Kondisi jalan dari penginapan sampai ke tujuan terbagi dua jenis. Jalan biasa beraspal dan jalan berkerikil non aspal. Jalan beraspal mungkin hanya membutuhkan waktu 10-15 untuk ditempuh dengan kecepatan 50-60 km/jam. Jalan berkerikil mungkin sekitar 30-45 menit dengan kecepatan rata-rata 15 km/jam. Saran saya meskipun sedang kebelet janganlah melaju lebih dari 20 km/jam karena itu hanya akan membuat apa yang akan keluar menjadi lebih memberontak.

Ketika dalam perjalanan pulang baru kami tersadar bahwa di ruas jalan berkerikil ini tidak ada penerangan jalan. Rumah penduduk lokal yang umumnya agak jauh dari pinggir jalan hanya diterangi lampu dengan Watt rendah.

Lanjut ke cerita menuju Pantai Perawan. Setibanya di sana kami membawa turun motor dari aspal ke pasir pantai. Untuk mencapai pasir kami melewati semak lebat yang memiliki jalan sangat sempit. Jika membaca kata sempit, kemudian anda mengaitkannya dengan nama pantai ini, lalu berkhayal lebih jauh, jelas ada yang salah dengan anda πŸ™‚

Satu per satu dari kami melintasi jalan itu. Tentang tenggelamnya motor Wewe, Ari, dan Roy di pasir pantai, asumsi saya adalah, Wewe yang berada paling depan, melihat ada spot asik yang menghampar tidak jauh dari lokasi ketika kami muncul pertama kali di pantai. Kemudian dia mengarahkan motornya kesana diikutin yang di belakangnya (Ari). Namun apa lacur, ternyata ditengah-tengah ia dan Ari tejebak pasir cukup dalam. Jadilah hampir seperempat ban belakang mereka tenggelam dalam pasir.

Melihat kejadian itu kami tertawa dan masih memaksakan menuju spot tersebut, Roy mencoba menerobos pasir dan hasilnya sama seperti Wewe dan Ari. Maka surutlah niat kami memarkir sepeda motor di spot itu.

Setelah yang lain memarkir motor di tempat yang kondusif kemudian kami segera menikmati suasana Pantai Perawan. Pantai yang sepi, hanya ada sepasang manusia selain kami yang ada di sana. Tidak terlalu eksotis tapi saya percaya apa yang terhampar dihadapan kami saat itu bisa jadi penghibur bagi kami yang selama enam jam perjalanan hanya disuguhi pemandangan aspal, bus, truk, dan lainnya yang bisa dikatakan jauh dari indah. Sunset di tempat ini benar-benar memuaskan dahaga.Β  Silahkan dinikmati foto-fotonya.

Sunset

Happy -newly- Couple

An Evening Moment

A Scenery

Red Sunset

Lalu kegembiraan itu memancing kami mengeluarkan sisi lain dari diri kami masing-masing. Selamat menikmati

Masih normal

Mulai sedikit tampak πŸ™‚

Yak…Ada komen?

Mulai parah

Masih banyak foto yang akan kami share.

Silahkan.

Petugas Turing Berpose Galau

Wondering

A brader.

Segitu saja kiranya postingan A Trip To Tanjung Lesung Part 2. Menyusul nanti adalah A Trip To Tanjung Lesung Part 3 yang isinya sebagian besar akan bercerita tentang #LensaTuring di Pulau Haliyungan.

Terima kasih untuk kunjungannya. Salam Lensa Turing

Tagged , , , , ,

A Trip To Tanjung Lesung (Part 1)

Ini adalah kali ketiga saya melakukan perjalanan bersama kawan dalam lingkup Lensa Turing (@lensaturing). Lensa Turing dimotori oleh tiga orang yakni saya (@meyerjps), Arry (@idharri), dan Roy (@dialahir). Konsepnya adalah melakukan turing sekaligus memuaskan hobi memotret kami. Menikmati alam dan mengabadikannya dengan lensa kamera yang kami bawa. Untuk itu kami melakukan turing menuju tempat-tempat dimana terdapat pemandangan alam yang menarik.

Kali pertama kami melakukan perjalanan adalah di akhir Oktober 2011, menghampiri Teluk Kilauan atau Dolphin Bay di Lampung, Sumatera. Tambahan peserta selain kami bertiga adalah Fahmi (@ujankfahmy) dan Henry (seorang fotografer handal dan boncenger Roy kala itu). Perjalanan kami mulai Jumat malam dan kembali di Jakarta Minggu malam. Cerita lengkapnya akan menjadi postingan sendiri nanti, ini salah satu foto trip ke Teluk Kilauan, Lampung, Indonesia.

Perjalanan kedua yang kami lakukan adalah ke Dieng, Jawa Tengah. Tambahan peserta perjalanan adalah Zeliq (@zeliqmsubing), Henry (kali ini ia membawa motor sendiri), dan Wildan (@wildanwaldo). Dari Jogja datang menyusul ke Wonosobo, Okky (@oqik_kembunk). Seperti biasa perjalanan kami mulai di Jumat malam. Kali ini dengan satu dan lain alasan maka hari kami tiba kembali di daerah asal kami berbeda-beda. Saya tiba di Jakarta Senin dini hari. Zeliq Senin pagi. Henry Senin malam. Arry Senin sore. Wildan dan Roy Kamis malam. Cerita lengkapnya akan kami share nanti. Ini satu foto trip ke Dieng


Kembali ke perjalanan Lensa Turing yang ketiga, ke Tanjung Lesung, Banten. Pesertanya tambahannya adalah Thessa (pacar baru Arry, ciee. Boncenger), Dilla (pacar Roy. Boncenger), Ari (teman Dilla), Milan (Abang Roy), Wildan (sepertinya akan terus menerus ikut nih dia), Wewe (teman kami, ayah satu anak. Akhirnya bisa dapat SIT aka Surat Ijin Turing dari istrinya), dan Yudi (teman kantor Wewe). Total 10 orang yang berangkat. Fahmi batal karena menjelang ujian. Eka batal karena memilih untuk membeli velg baru, biar makin cihuy tampang motornya.

Perjalanan direncanakan mulai jam 10 malam dari sekitaran Senayan walaupun realisasinya tidak demikian. Arry, Thessa, dan Roy berangkat dari Senayan. Saya, Wildan, Wewe, dan Yudi berangkat dari Tanjung Barat. Kami kemudian bertemu di depan UIN Ciputat untuk menuju rumah Dilla. Di rumah Dilla juga sudah menunggu Ari. Dari rumah Dilla kami menuju kawasan DPRD Tangerang untuk bertemu Milan.


Setelah semua lengkap kami kemudian mulai melakukan perjalanan melalui Serang dan Labuhan, tentu diawali dengan doa bersama agar perjalanan kami lancar dan selamat sampai kembali ke tempat tinggal kami masing-masing. Berdasarkan info yang kami kumpulkan, perjalanan dari Jakarta menuju Tanjung LesungΒ  dengan menggunakan sepeda motor akan lebih kurang enam jam. Di luar waktu istirahat, sholat, makan, poop, pipis, atau apapunlah itu.

Dalam Lensa Turing tidak ada formasi baku siapa yang menjadi petugas dikala riding. Namun ada beberapa kebiasaan yang biasa terjadi bila kami melakukan perjalanan. RC biasa diisi oleh Roy, Wildan, atau saya. Sweeper, Wildan. Dalam perjalanan ini Roy menjadi RC, Wildan dan Wewe menjadi sweeper. Sedikit curcol, saya menjadi RC hanya ketika tahu jalan saja πŸ˜€

Beberapa jam berjalan Roy dan Milan bertukar motor karena lampu utama motor Roy dirasa kurang memadai untuk menerangi jalan. Setibanya di Serang sambil beristirahat sejenak, Milan menemukan masalah pada motor Roy. Rem belakang nyaris blong. Dengan tools yang cukup lengkap Milan, Roy, dan kami coba memperbaiki masalah yang ada namun tidak terlalu berhasil. Akhirnya perjalanan kembali dilanjutkan dengan Milan mengendarai sepeda motor Roy nyaris tidak memiliki rem belakang, plus lampu belakang (rem) tidak nyala. Mungkin Roy lupa membayar tagihan listrik ke PLN.

Kondisi jalan dari Tangerang menuju Serang ketika itu cukup banyak perbaikan jalan. Jumlah kendaraan yang melintas tidak terlalu banyak. Hanya di beberapa titik-titik tertentu terjadi antrean, misalnya pasar dan di ruas jalan yang diperbaiki. Ada satu kejadian unik ketika beberapa dari kami menepi dan yang lain mengisi bahan bakar. Di ruas jalan berlawanan dari kami, ada seorang perempuan paruh baya mengendarai sepeda motor metik (matic) dengan lambat di tengah jalan sambil asyik bertelepon sementara di belakangnya ada dua buah truk besar yang mana salah satu truk itu telah empat sampai lima kali membunyikan klakson bersuara besar, sangat besar. Kejadian jenaka itu memancing kami untuk menyoraki si perempuan. Tentu pula kejadian itu jadi santapan empuk bagi Wewe untuk dijadikan joke. Berkali-kali saya sarankan agar Wewe ikut stand up comedy. Juara.

Menjelang subuh kami beristirahat dan melakukan sholat subuh di Masjid Agung Pandeglang. Selepas Sholat kami berdiskusi sebentar untuk memutuskan apakah akan terus melanjutkan perjalanan atau beristirahat (tidur) sekitar dua jam di sana. Mengingat kami membawa boncengers perempuan yang asumsi generalnya secara fisik tidak setangguh beberapa laki-laki yang ada saat itu. Mohon dicatat, beberapa saja loh. LOL.


Setelah mendengar argumen dan menimbangnya, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kami akan berhenti di tempat yang cukup kondusif untuk beristirahat dan makan. Di sekitar Masjid Agung itu belum ada tempat makan atau warung yang buka, kecewa. Lanjutan perjalanan subuh itu berhenti di sebuah pelataran parkir makam Syekh Mansyur yang ada di pinggir jalan. Masih cukup pagi ketika kami tiba di sana sehingga parkiran masih cukup sepi. Kami memarkir motor kami dan membeli makanan di warung nasi. Cukup murah. Untuk nasi uduk, telor balado, dan tempe bumbu dihargai lima ribu rupiah. Beberapa dari kami memilih untuk menyantap mie instan. Beruntungnya kami karena beberapa saat kemudian kami menyadari bahwa tepat di sebelah warung makan itu adalah bengkel dan pemilik bengkel pagi itu membuka bengkelnya dikala kami semua sedang menikmati makan pagi. Ups, tidak semua, Wewe tetap sibuk menyeruput kopi hitam pekatnya.

Segera sepeda motor Roy didorong ke bengkel untuk dibereskan masalah rem belakangnya. Milan dan Roy mendampingi pemilik aka mekanik memperbaiki masalah. Sementara yang lain mencari kesibukan sendiri. Ngobrol, tiduran, bercanda, ngopi, mencoba motor Ari, dll.

Hampir dua jam masalah belum dapat diselesaikan. Asumsi kami si mekanik kerja dengan prinsip trial and error. Kantuk makin tidak tertahankan. Saya memilih untuk menyiram tenggorokan saya dengan minuman berenergi, terpaksa. Beruntunglah Wewe ikut dalam perjalanan ini, dia menyegarkan (setidaknya saya) dengan celotehannya. Dia men-dubbing bapak mekanik yang bekerja memperbaiki rem didampingi anaknya. Entah dapat ide dari mana, si anaknya dinamai Ipung. Sampai saat ini, seminggu setelah perjalanan selesai dilakukan, Ipung tetap menjadi joke happening diantara kami.

Dari tempat ini Ari memimpin kami sampai ke penginapan karena ia yang sudah pernah ke Tanjung Lesung sebelumnya.

Kondisi jalan dari Serang sampai Masjid Agung Pandeglang cukup baik. Dari Masjid Agung sampai tempat ini membuat saya seperti habis disiram air es, kantuk terlupakan karena banyak lubang dan tambalan.

Sekiranya jam 10 pagi kami mulai memasuki kawasan Tanjung Lesung. Tiba di home stay kami disambut hangat oleh tuan rumah. Dilla memilih tempat yang baik sekali sehingga segera setelah unpack barang bawaan dari motor kami segera terlelap.

Menuju area Tanjung Lesung lagi-lagi kami dihadapkan pada kondisi jalan yang penuh dengan perbaikan di sana-sini.

-Akhir Part 1 –

* Semua foto adalah milik Roy Prasetyo dan Arry untuk Lensa Turing

Tagged , , , ,

Reward

Pandangan yang menyebutkan bahwa pengendara motor jauh dari tertib dan taat pada aturan, rambu, dan atau marka jalan mungkin cenderung meningkat setiap harinya walau beberapa cara sudah dilakukan oleh berbagai pihak baik secara berkelompok atau perorangan.

Suatu hari saya membaca info dari seorang teman yang terlibat event – yang seingat saya – menyatakan akan memberikan subsidi kepada komunitas motor. Nah dari sini saya terpikir sebuah ide dimana ada perusahaan yang memberikan reward bagi pengendara sepeda motor yang berkendara dengan baik (mematuhi aturan lalu lintas, membawa surat-surat kendaraan bermotor, santun berkendara, dll). Bentuk rewardnya bermacam-macam, misalnya saja bahan bakar setara pertamax atau shell super full tank. Ketika harga bbm merangkak naik, reward seperti ini tentu menjadi oase di padang gurun.

Intinya adalah biarkan memberi punishment menjadi bagian pihak berwajib, dan gerakkan swasta untuk memberikan reward secara spontan.

Dengan demikian diharapkan masyarakat terpancing untuk berkendara dengan safety dan santun.

Cmiiw.

Tagged , , , ,
%d bloggers like this: