Korupsi Jalan

Korupsi sudah sangat parah menjalar dalam berbagai sendi kehidupan di negeri ini.

Asal kata Korupsi

Korupsi berawal dari bahasa latin corruptio atau corruptus. Corruptio berasal dari kata corrumpere, suatu kata latin yang lebih tua. Dari bahasa latin itulah turun ke banyak bahasa Eropa seperti Inggris yaitu corruption, corrupt; Prancis yaitu corruption; dan Belanda yaitu corruptie, korruptie. Dari Bahasa Belanda inilah kata itu turun ke Bahasa Indonesia yaitu korupsi.
(Andi Hamzah, 2005, Pemberantasan Korupsi)

Arti kata Korupsi

Korup : busuk; palsu; suap
(Kamus Bahasa Indonesia, 1991)

buruk; rusak; suka menerima uang sogok; menyelewengkan uang/barang milik perusahaan atau negara; menerima uang dengan menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi
(Kamus Hukum, 2002)

Korupsi : kebejatan; ketidakjujuran; tidak bermoral; penyimpangan dari kesucian
(The Lexicon Webster Dictionary, 1978)

penyuapan; pemalsuan
(Kamus Bahasa Indonesia, 1991)

penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan sebagai tempat seseorang bekerja untuk keuntungan pribadi atau orang lain
(Kamus Hukum, 2002)

Dalam pengamatan saya selama ini korupsi juga terjadi dalam berkendara di jalan raya, oleh siapapun dengan kendaraan jenis apapun. Utamanya sepeda motor. Perhatikan di berbagai kesempatan di jalan raya, banyak kendaraan melaju atau melewati lampu lalu lintas yang sudah jelas menunjukkan instruksi untuk berhenti. Dalam kata lain, mengambil bagian atau kesempatan orang lain (yang mempunyai kesempatan melaju karena lampu lalu lintasnya berwarna hijau). Lihat bagaimana sepeda motor melintas di atas trotoar jalan, yang artinya mengambil hak pejalan kaki. Cermati bagaimana pengendara mengambil jalur pengendara lain atau berpindah jalur tanpa memberi aba – aba pada pengendara lain dengan lampu sign. Bukankah itu artinya menyerobot hak pengendara lain itu?

Simak bagaimana pengendara sepeda motor terus menyelinap dan merangsek maju di berbagai pemberhentian lampu lalu lintas hingga melewati pembatas jalan, bukankah itu mirip dengan sifat koruptor yang terus memperkaya diri sendiri sampai semaksimal mungkin tanpa peduli batasan atau hak orang lain. Banyak contoh lainnya, dan saya percaya anda dapat menyebutkan satu diantaranya karena anda juga menyadari atau pernah melakukannya 🙂 Saya sendiri juga sekali atau dua kali melakukan itu.

Ada apa dengan kita semua?

Koruptor mempunyai sangat banyak alasan mengapa dia korupsi, sama seperti pengendara di jalan raya juga mempunyai banyak alasan yang diajukan untuk menjelaskan kenapa ia menjadi koruptor di jalan raya, namun saya menolak semua alasan itu. Justru ketika kita taat aturan, rambu, dan kaidah di jalan raya dan berkendara saat ada banyak alasan untuk melanggarnya adalah membuktikan kualitas diri kita.

kaskus.us

Takut terlambat makanya salip sana sini dan melanggar lampu merah? Sediakan waktu lebih banyak untuk berkendara menempuh tujuan kita.

Panas jika mengantri makanya naik ke trotoar jalan? Gunakan mobil, konsekuensinya perjalanan lebih lama. Gunakan taksi, namun sediakan biaya lebih dibandingkan bersepeda motor.

Ketika anda memilih sesuatu silahkan pahami kelebihan dan kekurangannya. Nikmati kelebihannya, terima kekurangannya. Kalaupun ingin meminimalisir kekurangannya, silahkan saja asal tidak sampai merugikan orang lain.

Jadilah manusia bermoral dan memiliki kualitas, jangan seperti koruptor.

Taat ketika ada polisi dan karena takut tilang menunjukkan kita sama seperti koruptor yang takut ketika ada pihak berwajib. Taatlah karena kesadaran diri sendiri dan untuk keselamatan bersama.

😀

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: