Belum Sampai

Di libur Idul Fitri tahun ini saya berkesempatan riding ke Bandung sekaligus menghadiri pernikahan salah satu sahabat saya sejak kuliah. Saya riding berdua bersama kawan dari komunitas dimana saya bergabung.

Selama tiga hari dan tiga malam di Bandung saya mengunjungi wisata alam Tangkuban Perahu. Ini adalah kali pertama saya mengunjungi Tangkuban Perahu meskipun saya pernah tinggal di Bandung kurang lebih lima tahun. Maka tak heran dalam kunjungan pertama ini saya merasa sangat antusias hingga semua sudut seakan saya tengok. Keantuasiasan itu membuat saya pada akhir mencicipi puncak tertinggi dari kawasan wisata ini, sungguh saya mengagumi maha karya sang pencipta itu. Setelahnya saya memilih untuk beristirahat daripada berputar – putar keliling kota Bandung bersama rekan – rekan komunitas yang tinggal di Bandung. Semata hal ini saya lakukan guna menjaga kebugaran untuk riding perjalanan pulang ke Jakarta.

Hari yang dinanti tiba. Yakni waktu dimana saya meninggalkan kota Bandung untuk menuju Jakarta. Dugaan saya pasti kami akan bertemu dengan kepadatan kendaraan di sepanjang perjalanan kami yang adalah akibat arus balik Lebaran. Dengan demikian saya menduga juga bahwa kami akan berdampingan dengan pengguna jalan yang terburu – buru ataupun sruntulan. Kemudian saya teringat dua rekan kami dalam komunitas yang mengalami kecelakaan ketika menempuh jalur yang akan kami lalui.

Dengan semua itu saya berdoa kepada Sang Maha agar saya dan sahabat saya dilindungi dalam perjalanan, dijauhkan dari mara bahaya, dijauhkan dari segala bentuk trouble, dijauhkan dari pencobaan. Diberi kekuatan untuk riding, dan diberi hikmat dalam berkendara.

Akhirnya waktu yang dinanti tiba. Mesin dinyalakan dan kami meluncur menuju Jakarta via Puncak. Puji Tuhan ucap saya dalam hati sesampainya kami di sekitar Tanjung Barat Jakarta. Namun kemudian ada counter terhadap kalimat ucapan syukur saya itu: lo belum sampai (tujuan/kontrakan), tetap fokus dan safety.
Lalu munculah jawaban: terima kasih atas penyertaanMu sejauh ini ya Allah. Perjalanan belum usai, tetap lindungi dan jagai aku.

Kemudian saya tiba di Kuningan, tempat kost kekasih saya untuk mengantarkan titipan dari temannya di Bandung.
Saya bernafas lega kala motor terparkir di depan kosnya. Namun sekejap ada kalimat: lo belum sampai, tetap waspada dan bersandar padaNya. Berhenti sejenak, saya menjawab: o ya, setuju. Baiklah.
Selesai urusan mengantarkan titipan kemudian saya meluncur pulang dan lagi – lagi dingatkan untuk tidak mengandalkan kekuatan sendiri.

Akhirnya saya benar – benar sampai di tempat saya tinggal. Parkirkan motor, bebersih, dan kemudian merebahkan badan. Nikmat.

“Terima kasih saya dapat sampai dengan selamat sampai tempat ini tanpa kekurangan apapun dan tanpa gangguan berarti”.

Sejenak setelahnya saya berpikir tentang perjalanan saya itu.
Beberapa hari setelah saat itu saya masih berpikir tentang perjalanan saya itu.

Dalam perjalanan hidup seringkali saya lupa mengandalkan Tuhan dalam setiap hal. Padahal perjalanan saya belum usai, belum sampai garis finish.
Seringkali saya merasa mampu sendiri karena sudah terbiasa, seperti saya terbiasa riding dari Jakarta menuju Bandung dan sebaliknya.

Advertisements
Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: